Energi Alternatif Ramah Lingkungan dan Menguntungkan

KONVERSI minyak tanah ke elpiji menjadi masalah yang sangat mengkhawatirkan bagi ibu rumah tangga dan pedagang makanan kecil.

Betapa tidak, selama bertahun-tahun mereka menggunakan kompor minyak untuk memasak, tiba-tiba Pertamina yang diserahi tugas untuk mengatur segala hal yang berkaitan dengan penggalian sumberdaya alam dan pendistribusiannya, mengumumkan bahwa stok minyak tanah di pasaran akan dikurangi. Program ini bertujuan mengurangi beban subsidi pemerintah akan bahan bakar dalam hal ini minyak tanah.

Program ini dilaksanakan dengan cara membagi-bagikan tabung dan kompor gas kepada pengguna minyak tanah. Dengan sedikit terpaksa, konsumen minyak tanah pun beralih ke elpiji karena minyak tanah di pasaran sulit ditemukan, kalaupun ada harganya sudah melambung tinggi.

Sayangnya, Pertamina dan masyarakat tampaknya kurang siap dalam melaksanakan program ini, sehingga terjadi beberapa kasus meledaknya tabung elpiji yang berakibat fatal, permainan para distributor dengan modal banyak sehingga terjadi penimbunan dan kasus paling parah terjadi pada bulan-bulan ini di mana tabung elpiji maupun isinya langka di pasaran dan harga melambung, sehingga masyarakat bingung dan terjadi antrean panjang di beberapa daerah.

Pada kasus-kasus seperti ini, masyarakat golongan bawah yang selalu jadi korban utama. Minyak tanah susah dicari, harga elpiji tidak terjangkau dan harus antri berjam-jam untuk mendapatkannya.

Beberapa alternatif bahan yang bisa dipakai untuk memasak adalah kayu bakar dan briket batu bara. Untuk kayu bakar, dirasa lebih tradisional dan kurang memungkinkan pada tipe rumah yang kecil dan berdesakan, dan untuk briket batu bara belum tersosialisasi baik di masyarakat.

Sebenarnya ada lagi alternatif bahan bakar gas alami yaitu biogas. Biogas ini bisa menggunakan bahan-bahan yang saat ini mayoritas masih merupakan barang sampah, seperti kotoran ternak, sampah organik, limbah industri bahkan kotoran manusia bisa digunakan.

Teknologi ini dikenalkan kepada masyarakat sejak tahun 1990-an oleh Borda, sebuah LSM Jerman yang bekerjasama dengan LSM Indonesia yaitu BPTP (Badan Pengembangan Teknologi Pedesaan), dimana sistem biogas ini memanfaatkan gas CH4 (metana), CO2 (karbondioksida) dan N2, H2, O2 serta H2S yang terkandung pada bahan tersebut yang dikumpulkan dan disalurkan untuk pembakaran.

Biogas ini, berprinsip memanfaatkan limbah menjadi gas yang bisa digunakan untuk kompor, lampu petromaks dan penelitian sedang dilakukan pada genset berbahan bakar biogas.

Selain meminimalkan limbah sampah dan kotoran, dengan manggunakan biogas, masyarakat tidak tergantung pada minyak tanah ataupun elpiji yang sering mengalami kenaikan harga dan kelangkaan, sehingga mampu menyelesaikan permasalahan minyak tanah ataupun gas elpiji yang saat ini membuat kepala pusing.

Biaya yang dibutuhkan hanya sekitar Rp 15 juta untuk instalasi awal dengan diameter tabung utama sekitar enam meter yang ditanam di dalam tanah demi efisiensi lahan. Kompor terbuat dari bahan baja dan kuat dalam belasan tahun serta untuk pipa penyalur gas dari tabung ke kompor dan selanjutnya hanya memerlukan biaya perawatan saat tabung mengalami kebocoran, perawatan kompor atau alat lain dan pipa.

Biogas ini setiap hari bisa dipakai dan hampir tanpa biaya, hanya dengan sedikit tenaga untuk mengumpulkan bahannya dan mengalirlah gas yang dibutuhkan. Selain itu, bahayanya jauh lebih kecil dari gas lain seperti elepiji yang mudah sekali meledak.

Dari instalasi pertama, diperlukan waktu sekitar 10 hari untuk biogas yang menggunakan bahan bakar kotoran sapi sekitar lima sapi dan masih bisa digunakan sekitar 1 bulan setelah tidak dilakukan pengisian.

Banyak peternak sapi di Jawa telah memanfaatkan teknologi ini sejak tahun 1990 dan sampai sekarang masih bisa digunakan dengan baik.

Kesetaraan biogas dengan sumber energi yang lain perbandingannya: 1 M3 biogas sama dengan a) elpiji 0,46 kg b) minyak tanah 0,62 liter c) minyak solar 0,52 liter d) bensin 0,80 liter dan kayu bakar 3,50 kg.

Instalasi biogas tidak harus dengan diameter tabung yang besar, tetapi bisa digunakan biogas sistem rumah tangga dengan skala lebih kecil dengan mempertimbangkan jumlah bahan dan tanah/lahan serta pemakaian yang terbatas.

Biogas skala rumah tangga ini sudah mulai dikembangkan tahun 2000-an di Indonesia dengan konstruksi sederhana terbuat dari bahan plastik siap pasang (knockdown) dan dengan harga relatif murah. Biogas skala rumah tangga ini bisa menghasilkan 4 m3 per hari, setara dengan 2,5 liter minyak tanah hanya dengan 2-3 ekor sapi atau kerbau.

Program ini juga dilaksanakan oleh Ditjen PPHP Departemen Pertanian RI dengan program pemasyarakatan biogas untuk skala rumah tangga. Program tersebut hendaknya disambut masyarakat dengan baik karena selain menguntungkan juga meminimalisir sampah dan limbah.

sumber : http://bermula.wordpress.com/2008/06/08/energi-alternatif-ramah-lingkungan-dan-menguntungkan/

Sudah saatnya kita tidak lagi bergantung pada bahan bakar fosil dimana keberadaannya sudah sangat terbatas dan efek pemakaiannya mengganggu keseimbangan alam. Sudah saatnya masyarakat kita beralih ke organik dan menyelamatkan alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: